Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Diary Mekkah 3


Berapa hari lagi,,Tinggal menunggu waktu bagiku untuk meninggalkan tanahMu

Dan mulai merindu

Betapa disini segalanya berbeda

Betapa disini semuanya tak sama
Harus berapa lama aku menunggu

Agar bisa datang kembali ke tanahMu
Belumlah raga ini beranjak pergi dari sini

Tapi kerinduan di hati mulai menyelimuti
Tentang kota nabi yang tertata rapi

Tentang burung-burung merpati yang datang lalu terbang pergi sesuka hati

Tentang kawan seperjalanan yang menyenangkan

Tentang sejarah masjid dan bukit yang selalu terkenang
Tentang indah dan terpesona memandang ka’bah pertama kali

Tentang haru yang menyesakkan dada saat mengelilinginya 7x

Tentang deru nafas yang terengah di 7 putaran safa marwah
Tentang perjalanan wisata agama dari satu tempat ke tempat lainnya

Tentang cerita dan sejarah baginda Rasul dan sahabat-sahabatnya

Terlebih lagi..

Tentang bagaimana mengejar sholat tepat pada waktunya

Pada kaki-kaki yang lelah namun tetap melangkah

Tentang bagaimana kita menunggu dan menghitung saat adzan tiba

Pada mata-mata yang setengah terpejam namun sayang untuk melewatkan
Sungguh… aku tak akan mampu melupakan
Namun sanggupkah?

Mampukah diri ini bertahan di tengah godaan keluarga dan pekerjaan ketika tiba saatnya pulang nanti?

Sungguh.. diri ini tak akan sanggup mengingkari
Betapa banyak nikmat yang telah Engkau beri, namun mampukah diri ini tetap bersyukur seperti saat ini?

Ketika air mata ini menetes membayangkan perpisahan itu tiba,

Saat dada terasa sesak hingga tenggorokan tercekat tak mampu bersuara,

Sungguh berat perpisahan ini ya Allah…

Namun bila waktu itu tiba ijinkan aku berdoa
“Jadikanlah aku dan keturunanku orang-orangMu yang terpilih untuk datang kembali ke tanahMu yang suci”



Labbaikallahu ma labbaik…

Labbaikkalaa syariikalak labbaik..
20170224, Kirana

Mekkah Al Mukarromah, 21:00 waktu setempat

Suami


Apa yg kau cari hingga kau menjadikannya istri?
Bukankah salah satunya karena dia memberikanmu rasa nyaman?
Lalu mengapa setelah kini kau miliki, dia sering kau tinggalkan demi teman”?

Apa yg kau lihat darinya hingga kau memintanya dari orang tuanya?
Bukankah salah satunya karena kau merasa bahagia bila ada disampingnya?
Meski ia tak cantik, meski ia berpenampilan sederhana tapi asal ada di dekatnya bukankah kau merasa bahagia….
Lalu mengapa kini saat ia selalu ada disisimu malah engkau sering berpaling darinya?

Tak ingatkah engkau semasa dulu tiap malam kau selalu merinduinya, bahkan menyebut namanya dalam setiap mimpi indah?
Lalu mengapa kini saat ia selalu bersamamu engkau malah pergi menjauhinya dengan berbagai alasan kesibukan?

Hilangkah perasaan nyaman itu?
Kemana perginya rasa bahagia itu?
Tak ada lagi kah rindu itu?

Dulu kau puja, mestinya sekarang kau jaga..

Dulu kau kejar, harusnya kini kau genggam..
Jangan pernah kau sia kan..

Kirana,17 01 2017


*pictures take from google

Untukmu yang Telah Menyakitiku


Terima kasih untuk semua luka yang kau berikan..
Dari itu aku belajar  kuat
Bahwa tak selamanya orang yang kita sayang
Mampu memberikan apa yang kita inginkan

Terima kasih untuk luka yang kau berikan
Dari itu aku belajar menghargai orang lain
Jangan sampai aku menyakiti harapan mereka
Karena luka yang tercipta atas harapan yang tersakiti itu sungguh menyakitkan

Terima kasih atas luka yang kau berikan….

image

16112015,kirana

Ketika Sendiri


Mereka bilang sendiri itu tak menyenangkan
Banyak juga yang menggumam…
Memangnya apa yang bisa dilakukan dalam kesendirian?”
Tapi bagiku tidak.

Kesendirian mengajarkanku banyak hal
Kesendirian juga yang membuatku menjadi lebih kuat dan tegar

Sendiri mengajarkanku mandiri,
Bagaimana kita harus menyelesaikan tugas-tugas kita
Semaksimal mungkin tanpa bantuan orang lain

Sendiri mengajarkanku arti menghargai orang lain
Ketika kita bersama biasanya kita kurang peduli dengan orang-orang di sekeliling kita
Tapi ketika sendiri…
Kita akan mengerti betapa sebenarnya kita sangat membutuhkan orang  lain

Dalam kesendirian akan selalu ada perenungan
Karena dalam kesendirian kita akan mendapatkan ketenangan

Sendiri itu indah kawan…
Meskipun kebersamaan itu menyenangkan
Tapi sendiri tak berarti penuh dengan kesedihan

~kirana, 090113~

Katanya Sayang?


Hai kawands jumpa lagi sama QK 🙂 dan lagi lagi kali ini QK mau sedikit curhat dan sedikit berbagi cerita dengan kalian Jadi, kali ini apalagi yang jadi bahan omelan QK di sini? hmmm 🙄

Begini kawands, beberapa hari yang lalu ketika QK lagi curhat-curhatan sama temennya QK dia cerita. Dia bilang “QK, kata keluargaku mereka sayang denganku. Dan mereka juga sering bilang kalau aku lebih penurut daripada kakakku. Kakakku itu menyebalkan, dan gak jarang bikin mereka jengkel. Tapi kenapa yaa.. koq semua yang diminta sama kakakku selalu dikasih. Semuanya kakakku yang nomor satu, sedangkan aku terkadang merasa di nomor sekian-kan. Kalau boleh aku bandingkan, aku selalu patuh sama mereka sedangkan kakakku lebih sering menentang. Saat aku gak boleh melakukan ini dan itu yang aku ingin, kakakku boleh. Ketika aku ingin mendapatkan sesuatu aku harus menunggu lama, tapi kakakku selalu dapat apa yang dia mau. Aku sering disuruh ini dan itu untuk hal-hal yang sepele, aku pikir wajar kalau aku yang disuruh karena aku lebih muda. Tapi ketika aku sedang letih dan mereka tetap suruh-suruh aku, sedangkan saat itu kakakku keadaannya lebih santai daripada aku. aku jadi heran QK.

Mereka sering juga ngomel-ngomel ke aku, tentang kakakku yang nggak nurut dan sebagainya. Kata mereka biasanya, “sudah, kelamaan kalau kakakmu. Kamu saja yang berangkat. Kamu saja yang kerjakan. Kita itu senang kalau nyuruh kamu, nggak seperti kakakmu.” Selalu begitu jawabnya. Bukankah mereka bilang mereka sayang aku QK? tapi kenapa rasanya aku malah jadi lebih sengsara? sedangkan kakakku sepertinya hidupnya lebih menyenangkan dan mudah?”

Tadinya QK jawab, ya kamu sabar aja. Mungkin memang mereka lebih senang kalau kamu yang mengerjakan. Mereka lebih percaya kalau kamu yang lakukan apa yang mereka mau. Yaa seperti yang kamu bilang, mungkin kakakmu terlalu lamban :green: 😆 atau mungkin juga memang mereka tuh sayang banget sama kamu, jadi yang ada dalam ingatan mereka cuma kamu kamu dan kamu 😆 makanya mereka seneng banget tuch nyuruh-nyuruh kamu, habisnya yang mereka ingat cuma kamu qkqkqkq 😆 jawabku sambil bercandaberusaha menghibur dia.

Tapi setelah itu QK juga berpikir sich kenapa koq bisa begitu ya? 🙄 Sampai akhirnya QK menyadari sesuatu 💡

1. Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambaNya

Jadi  QK yakin seberat apapun yang dialami dan dirasakan sama teman QK itu, pasti itu adalah yang terbaik untuknya.

2. Allah memberikan ujian itu kan bermacam-macam bentuknya, misalnya ada yang di uji dengan kekayaannya dan ada juga yang di uji dengan kemiskinannya. Cantik, Jelek, pintar, Cacat, kaya, miskin  semua itu juga bentuk ujiannya bukan? tapi kan bukan berarti Allah hanya peduli pada yang cantik sedangkan yang jelek ditelantarkan. atau Allah hanya peduli pada yang kaya tapi yang miskin di abaikan. Pada seorang ustadz, ada campur tangan Allah dalam hidupnya. Sama juga pada seorang perampok, ada campur tangan Allah dalam tiap hari yang dilaluinya.

Sama seperti temen QK yang walaupun katanya kakaknya nggak nurut dan temen QK lebih baik dari kakaknya, tapi keluarganya sebenarnya pasti tetap menaruh peduli pada mereka berdua

3. Cara menguji Allah pada tiap hambaNya itu berbeda. Ada orang yang di uji dengan selalu di berikan kesengsaraan dalam hidupnya. Sudah kerja mati-matian tapi jangankan untuk hidup mewah, untuk makan sehari- hari aja masih susah. Ada juga orang yang di uji dengan segala kenikmatan yang dia punya. Hidupnya santai, setiap hari kerjanya cuma foya-foya tapi sepertinya keberuntungan selalu berpihak padanya. Kelihatannya memang mungkin hidup yang penuh nikmat itu lebih indah, dan lebih berkah. Tapi siapa yang tahu bahwa sebenarnya di mata Allah  yang di uji dengan kesengsaraanlah yang lebih mulia di sisiNya. Ehm kalau istilah jawa mungkin “di gunggung, di lulu”

Sama seperti teman QK yang sepertinya dia lebih sengsara, padahal mungkin sebenarnya keluarganya memang lebih memperhatikan dia. Lebih sayang sama dia, jadi keluarganya nggak ingin dia salah langkah. Itu sebabnya dia dilarang ini dan itu, karena keluarganya nggak mau dia sampai melakukan suatu hal yang salah. Sedangkan dengan kakaknya, keluarganya memang seolah membiarkan setiap apa yang dilakukan, Tapi sebenernya mereka nggak terlalu ambil peduli dengan kehidupannya. Asalkan sang kakak nggak salah-salah amat ya udah biarin aja.

Begitu kali yaaaaaaaa………. 😛  😎

Belum Waktunya


Pada suatu percakapan di suatu sore :

“Sabar, kamu itu belum waktunya.”

Waktunya? Emang apa yang menjadi indikator sudah waktunya atau belum?

Usia? Materi? Kedewasaan?
Darimana bisa mengukur kedewasaan?

HAaiihh,,, sudahlah… biarkan saja berjalan seperti biasa.

K.K.S.K


Kamu tahu kenapa aku begitu cerewetnya sama kamu?
Kamu tahu kenapa aku selalu larang kamu melakukan ini dan itu
Mengingatkan kamu tentang segala sesuatu yang mungkin baik untukmu
Atau mungkin juga hal itu akan membuatmu menyesal di kemudian hari?

Sedangkan sama orang lain aku biasa saja
Dengan yang lain aku tak peduli
Terserah mereka mau jungkir balik ataupun merusak hidup mereka
Terserah mereka ingin coba-coba bahkan untuk mencoba yang terburuk sekalipun
untuk diri mereka
Aku tak peduli….

Aku marah ketika kamu jatuh karena kamu tak mendengarkan kata-kataku
Tapi aku tetap membantumu bangkit
Aku sedih ketika kamu mengacuhkan pemberianku
Tapi aku tetap memberimu lagi dan lagi
Berharap itu akan berguna untukmu dan kamu akan menyukainya
Tak perlu ucapan terima kasih atau sebuah sanjungan
Karena dengan kamu menerima semuanya aku sudah BAHAGIA


Kamu tau kenapa bisa begitu?
Karena…
Baca lebih lanjut