Archive for the ‘Cerita Bersambung’ Category

Bayangan Masa Lalu (part 2)


Aku masih terdiam mengingat apa yang Atar ceritakan padaku tadi sore di halte. Ah, Atar… andai aja kamu ceritain semuanya dari dulu. Tapi memangnya aku bisa bantu apa kalo dia ceritain tentang kisahnya dari dulu? Paling juga Cuma turut prihatin. Eh eh, tapi kan seenggaknya dia jadi punya teman buat berbagi? Aih,, si Anez ke-GeeR-an. Terus kalo udah punya teman berbagi mau apa,, jangan-jangan ntar malah Anez temenan sama Atar gara-gara rasa kasihan. Hehe,,

Pantesan aja, yang namanya Atar susah ditebak jalan pikirannya. Kadang baik banged, tapi kadang membingungkan. Mendadak nggak mau ngomong, mendadak jutek. Mungkin saat seperti itu dia lagi teringat sama masa lalunya kali ya?

Berbagai pikiran datang menyergap kedalam otakku, mulai dari rasa nggak percaya, kasihan, sampai nyalah-nyalahin si Atar. Kaya’ nggak ada cewek laen aja. Kesenengan amat tuch si Lia, udah bikin sakit ati eh masih di pikirin juga. Mending kan buat mikirin yang lain yang lebih berguna. Mikirin Anez misalnya, lho…lho… 😀

Dan malam ini pun aku tak bisa tidur karena masih teringat semua yang diceritakan oleh Atar,bener-bener nggak habis pikir. Koq masih ada aja cewek seperti itu. Aduh,, mendadak kepalaku terasa pusing. Masa sich Cuma gara-gara dngerin ceritanya Atar bisa bikin kepala sesakit ini? Ah nggak tau dech,, tidur aja kali ya…

Baca Selanjutnya…

Iklan

Bayangan Masa Lalu (Part 1)


Aku berlari terburu-buru memasuki halte tempat aku biasa menunggu jemputanku. Kubersihkan ujung-ujung sepatuku yang terkena percikan air hujan. Ya, hujan.. itu yang membuatku berlari-larian menuju ke halte bus di depan kampusku. Aku menggerutu panjang pendek demi menyadari sebagian pakaianku basah terkena air hujan, ditambah lagi sudah sekian menit menunggu tapi jemputanku tak datang-datang juga. Membuatku semakin dongkol saja.

Ku coba mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat di sekeliling halte. Ah, indahnya hujan ini. Pikirku sesaat setelah emosiku sedikit mereda. Ternyata air yang jatuh membasahi bumi ini kalau diperhatikan semakin lama semakin tampak cantik saja. Jadi menyesal tadi sudah ngomel-ngomel nggak karuan gara-gara kehujanan. Padahalkan lebih susah lagi kalau hujan nggak mau turun sama sekali. Aku tertawa kecil, mentertawakan pikiranku yang kekanakan tadi. Ngomel-ngomel nggak jelas Cuma karena sedikit kehujanan.

15 menit, 25 menit, kemana ini kakakku… koq aku nggak dijemput-jemput juga sich! Pikirku mulai sedikit jengkel. Gak tau apa kalau adeknya ini sudah mulai kedinginan. Kembali ku coba melayangkan pandang ke sekitar area sekolahku. Sudah sepi, hanya ada satu, dua orang yang melintas di jalan. Mungkin karena efek hujan, suasana kurasakan jadi sedikit mencekam. Tubuhku bergidik ketika menyadari ternyata aku tak sendirian di halte itu. Ada seorang lelaki di sana. Entah sejak kapan dia ada disitu, aku tak terlalu memperhatikan. Mungkin saat aku sibuk melamun tentang indahnya hujan tadi. Sekali lagi tubuhku bergidik, entah karena kedinginan atau karena ada semacam rasa takut yang terselip dengan keberadaan lelaki itu.

Ku coba sesekali mencuri pandang ke arah lelaki itu. Hm, wajahnya biasa aja.. nggak jelek. Yaa.. walaupun juga nggak bisa dikatain cakep 😀 tapi ada sesuatu yang aneh tersirat dari pandangan matanya. Seolah dia sedang menantikan sesuatu. Apa iya dia juga menunggu jemputan sepertiku? Kekekke,,, tak sadar aku melepas tawa. Dan sialnya lelaki itu menyadari bahwa aku mentertawakannya. Ia menoleh ke arahku, membuatku sedikit gugup dan salah tingkah karena kepergok sedang memperhatikannya.

“Mm,, lagi tunggu jemputan mas?” tanyaku mencoba mengatasi kegugupanku. Meskipun jujur saja sebenernya aku pun takut menyapanya. Habisnya tatapan matanya tajam juga. Jadi takut terjadi sesuatu dengan diriku yang wanita ini. Hehe,,

Baca Selanjutnya…