Posts Tagged ‘Tentang Cinta’

Tak Akan Kulupa Semampuku


Kehadiranmu memberikan warna baru

Kepolosanmu menumbuhkan semangatku untuk melindungimu

Rasa bersalah atas kejadian kecil yang tak terduga, begitu menumbuhkan rasa sayang dan tanggungjawabku padamu

Bahagiamu bahagiaku juga…

Kamu yang mengerti aku

Kamu pula yang ternyata selalu memahamiku, apa adanya aku

Kau dengarkan ceritaku, meski jarang kudengar ceritamu

Aku tak akan lupa…semampuku tak akan kulupa

Tawamu… suaramu… tangismu…

Tak akan kulupa semampuku

Kesabaranmu layak dijadikan panutan

Kesederhanaanmu patut untuk ditiru

Hidupmu sebentar..

Tapi kamu mengajarkanku banyak hal
In Memoriam,

05051992-08082008

Iklan

Diary Mekkah 3


Berapa hari lagi,,Tinggal menunggu waktu bagiku untuk meninggalkan tanahMu

Dan mulai merindu

Betapa disini segalanya berbeda

Betapa disini semuanya tak sama
Harus berapa lama aku menunggu

Agar bisa datang kembali ke tanahMu
Belumlah raga ini beranjak pergi dari sini

Tapi kerinduan di hati mulai menyelimuti
Tentang kota nabi yang tertata rapi

Tentang burung-burung merpati yang datang lalu terbang pergi sesuka hati

Tentang kawan seperjalanan yang menyenangkan

Tentang sejarah masjid dan bukit yang selalu terkenang
Tentang indah dan terpesona memandang ka’bah pertama kali

Tentang haru yang menyesakkan dada saat mengelilinginya 7x

Tentang deru nafas yang terengah di 7 putaran safa marwah
Tentang perjalanan wisata agama dari satu tempat ke tempat lainnya

Tentang cerita dan sejarah baginda Rasul dan sahabat-sahabatnya

Terlebih lagi..

Tentang bagaimana mengejar sholat tepat pada waktunya

Pada kaki-kaki yang lelah namun tetap melangkah

Tentang bagaimana kita menunggu dan menghitung saat adzan tiba

Pada mata-mata yang setengah terpejam namun sayang untuk melewatkan
Sungguh… aku tak akan mampu melupakan
Namun sanggupkah?

Mampukah diri ini bertahan di tengah godaan keluarga dan pekerjaan ketika tiba saatnya pulang nanti?

Sungguh.. diri ini tak akan sanggup mengingkari
Betapa banyak nikmat yang telah Engkau beri, namun mampukah diri ini tetap bersyukur seperti saat ini?

Ketika air mata ini menetes membayangkan perpisahan itu tiba,

Saat dada terasa sesak hingga tenggorokan tercekat tak mampu bersuara,

Sungguh berat perpisahan ini ya Allah…

Namun bila waktu itu tiba ijinkan aku berdoa
“Jadikanlah aku dan keturunanku orang-orangMu yang terpilih untuk datang kembali ke tanahMu yang suci”



Labbaikallahu ma labbaik…

Labbaikkalaa syariikalak labbaik..
20170224, Kirana

Mekkah Al Mukarromah, 21:00 waktu setempat

Istri


Apa yang kau lihat darinya hingga dulu kau terima pinangannya?
Bukankah salah satunya karena dia seorang lelaki yang hebat dan penuh tanggungjawab dalam penglihatanmu?

Apa yang kau harap ketika kau memandangnya?
Bukankah hatimu mengatakan inilah pendamping yang kau cari selama ini?

Bila dulu engkau mengharap cinta yg tulus, lalu mengapa kini engkau meributkan materi?
Kalau dulu engkau bahagia bila dia meluangkan waktunya untukmu, lalu mengapa kini kau memaksanya pagi, siang, sore malam untuk pergi mengais rezeki?

Tak cukupkah kehadirannya di sisimu, asal bisa makan tiap hari?
Mengapa masih harus kau berikan tuntutan ini dan itu…

Tak cukupkah kasih sayang yang dihujaninya untukmu, hingga kau masih membanding-bandingkannya dengan yang lain bahkan mantan kekasihmu dulu?

Bila kau melihatnya penuh kekurangan, bukankah itu pun kau sudah tahu dari dulu?
Bila kau merasa semakin hari dia semakin berubah, bukankah kamu salah satu sebabnya?

Kalau menurutmu kian lama dia hanya menampakkan keburukan, benarkah… cobalah kau hitung ulang..
Mungkin pula ada kebaikannya yg kau lupakan

Ketika engkau memilihnya menjadi imammu, saat itu pula telah kau pasrahkan hidupmu padanya.
Bukan hanya dia yang terlihat baik dimatamu, tapi juga dia yang belum tampak keburukannya di depanmu.
Mungkin dia tak sebaik yang kau harap dulu, tapi yakinlah pasti ada kebaikan dalam diriny untukmu.

Karena Allah tak pernah salah dalam memberikan sesuatu pada hambanya, meski itu berupa keburukan ataupun kebaikan.

Kirana, 20 01 2017



*gambar diambil dari google

Suami


Apa yg kau cari hingga kau menjadikannya istri?
Bukankah salah satunya karena dia memberikanmu rasa nyaman?
Lalu mengapa setelah kini kau miliki, dia sering kau tinggalkan demi teman”?

Apa yg kau lihat darinya hingga kau memintanya dari orang tuanya?
Bukankah salah satunya karena kau merasa bahagia bila ada disampingnya?
Meski ia tak cantik, meski ia berpenampilan sederhana tapi asal ada di dekatnya bukankah kau merasa bahagia….
Lalu mengapa kini saat ia selalu ada disisimu malah engkau sering berpaling darinya?

Tak ingatkah engkau semasa dulu tiap malam kau selalu merinduinya, bahkan menyebut namanya dalam setiap mimpi indah?
Lalu mengapa kini saat ia selalu bersamamu engkau malah pergi menjauhinya dengan berbagai alasan kesibukan?

Hilangkah perasaan nyaman itu?
Kemana perginya rasa bahagia itu?
Tak ada lagi kah rindu itu?

Dulu kau puja, mestinya sekarang kau jaga..

Dulu kau kejar, harusnya kini kau genggam..
Jangan pernah kau sia kan..

Kirana,17 01 2017


*pictures take from google