Archive for the ‘Keluarga’ Category

Tak Akan Kulupa Semampuku


Kehadiranmu memberikan warna baru

Kepolosanmu menumbuhkan semangatku untuk melindungimu

Rasa bersalah atas kejadian kecil yang tak terduga, begitu menumbuhkan rasa sayang dan tanggungjawabku padamu

Bahagiamu bahagiaku juga…

Kamu yang mengerti aku

Kamu pula yang ternyata selalu memahamiku, apa adanya aku

Kau dengarkan ceritaku, meski jarang kudengar ceritamu

Aku tak akan lupa…semampuku tak akan kulupa

Tawamu… suaramu… tangismu…

Tak akan kulupa semampuku

Kesabaranmu layak dijadikan panutan

Kesederhanaanmu patut untuk ditiru

Hidupmu sebentar..

Tapi kamu mengajarkanku banyak hal
In Memoriam,

05051992-08082008

Cinta Itu Masih Ada


Cinta itu masih ada
Hanya saja tak terbaca
Cinta itu masih ada 
Hanya saja tak terraba

Ketika jejak kakiku melangkah mendekatimu
Terlihat di ujung matamu semburat rindu
Tampak haru… tampak biru…

Butuh bantuan jarak dan lamanya waktu hingga akhirnya aku harus mengakui

Aku masih mencintaimu 🙂

Kemarin, kini dan juga nanti

Masih mencintaimu

Selalu mencintaimu 🙂

Ada kalanya jarak yang jauh menjadikan kita lebih dekat…

Istri


Apa yang kau lihat darinya hingga dulu kau terima pinangannya?
Bukankah salah satunya karena dia seorang lelaki yang hebat dan penuh tanggungjawab dalam penglihatanmu?

Apa yang kau harap ketika kau memandangnya?
Bukankah hatimu mengatakan inilah pendamping yang kau cari selama ini?

Bila dulu engkau mengharap cinta yg tulus, lalu mengapa kini engkau meributkan materi?
Kalau dulu engkau bahagia bila dia meluangkan waktunya untukmu, lalu mengapa kini kau memaksanya pagi, siang, sore malam untuk pergi mengais rezeki?

Tak cukupkah kehadirannya di sisimu, asal bisa makan tiap hari?
Mengapa masih harus kau berikan tuntutan ini dan itu…

Tak cukupkah kasih sayang yang dihujaninya untukmu, hingga kau masih membanding-bandingkannya dengan yang lain bahkan mantan kekasihmu dulu?

Bila kau melihatnya penuh kekurangan, bukankah itu pun kau sudah tahu dari dulu?
Bila kau merasa semakin hari dia semakin berubah, bukankah kamu salah satu sebabnya?

Kalau menurutmu kian lama dia hanya menampakkan keburukan, benarkah… cobalah kau hitung ulang..
Mungkin pula ada kebaikannya yg kau lupakan

Ketika engkau memilihnya menjadi imammu, saat itu pula telah kau pasrahkan hidupmu padanya.
Bukan hanya dia yang terlihat baik dimatamu, tapi juga dia yang belum tampak keburukannya di depanmu.
Mungkin dia tak sebaik yang kau harap dulu, tapi yakinlah pasti ada kebaikan dalam diriny untukmu.

Karena Allah tak pernah salah dalam memberikan sesuatu pada hambanya, meski itu berupa keburukan ataupun kebaikan.

Kirana, 20 01 2017



*gambar diambil dari google

Suami


Apa yg kau cari hingga kau menjadikannya istri?
Bukankah salah satunya karena dia memberikanmu rasa nyaman?
Lalu mengapa setelah kini kau miliki, dia sering kau tinggalkan demi teman”?

Apa yg kau lihat darinya hingga kau memintanya dari orang tuanya?
Bukankah salah satunya karena kau merasa bahagia bila ada disampingnya?
Meski ia tak cantik, meski ia berpenampilan sederhana tapi asal ada di dekatnya bukankah kau merasa bahagia….
Lalu mengapa kini saat ia selalu ada disisimu malah engkau sering berpaling darinya?

Tak ingatkah engkau semasa dulu tiap malam kau selalu merinduinya, bahkan menyebut namanya dalam setiap mimpi indah?
Lalu mengapa kini saat ia selalu bersamamu engkau malah pergi menjauhinya dengan berbagai alasan kesibukan?

Hilangkah perasaan nyaman itu?
Kemana perginya rasa bahagia itu?
Tak ada lagi kah rindu itu?

Dulu kau puja, mestinya sekarang kau jaga..

Dulu kau kejar, harusnya kini kau genggam..
Jangan pernah kau sia kan..

Kirana,17 01 2017


*pictures take from google

Keputusan yang Tepat


Untuk kesekian kalinya saya bersyukur dengan pilihan yg sudah saya buat bertahun yg lalu.

#lebihbaik jadi bos meskipun hasilnya sedikit, daripada jadi karyawan meskipun gajinya banyak (eh kecuali jd karyawan bayaran atusan juta,aq yo gelem rekk wakakaka)

Saya gk bodoh, nilai saya lumayan koq, awal” kelar kuliah saya jg sudah beberapa kali lolos tes wawancara kerja mulai dari perusahaan ecek” sampai bank yg lumayan ternama. Tapi entah kenapa gk ada satupun yg menarik minat saya untuk bergabung didalamnya. Bukan sombong atau sok gak butuh yaa.. tapi kembali lagi ke prinsip saya, mending jadi bos meski hasilnya sedikit daripada jd karyawan yg entah sampe kapan toh akhirnya pasti pensiun jg.

Sebangkrut-bangkrutnya usaha saya, tetep saya adalah bos nya. Yaa meskipun akhirnya namanya jadi bos bangkrut hihihie… (jng sampe sih hehe). Setinggi-tingginya jabatan ‘n gaji saya tapi klo masih ngikut orang berarti saya karyawan a.k.a pekerja. Sampai kapan mau jadi karyawan?? Cepat ato lambat juga pasti pensiun. Jadi sebelum saya dipensiunkan, saya aja yg memutuskan mundur dengan hormat wakakaka ato lebih tepatnya bukan mundur… tapi gk pernah masuk kedalamnya.

Dan sekarang saya bahagia,
Dengan usaha kecil saya meski hasilnya belum seberapa,
Tapi saya jadi punya banyak waktu luang untuk keluarga saya.
Saya gk khawatir diberhentikan meskipun saya liburnya suka” (eh tapi takut pelanggan pada hilang haha)
Saya gk takut klo ngajak anak saya kerja bareng saya (lha kan saya bos nya ya suka” lah)
Ahhh pokoknya serba bebas lah…

Karena bekerja gk harus melulu diluar rumah,
Karena bekerja gk harus terus duduk rapi dibelakang meja,
Karena bekerja gak harus untuk wanita,, meski klo bisa kerja rasanya lebih bahagia..

#part3
#catatanuntuksendiri
#bahagiaanaksudahsembuh
#bahagiaitusederhana

N.b : diambil dari status fb saya sendiri 😛

image

image

image

Tentang Prinsip


# seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk, maka jangan jadikan dia tulang punggung

# uang suami untuk keluarga, uang istri untuk dirinya sendiri terserah mw dipake untuk apa

# boleh wanita bekerja asal dengan ijin suaminya, dan gak melupakan kewajibannya terhadap keluarga. Kewajiban sebagai istri dan seorang ibu

# Klo pendapatan suami dirasa belum cukup dalam memenuhi kebutuhan keluarga, suamilah yg harus ikhtiar lebih keras lagi. Ingat, jangan minta uang istri!!!
Kecuali istri memberikannya sendiri dengan sukarela. Seberapapun banyaknya uang istri, itu tetap miliknya sendiri

# Jangan sampai istri bekerja dengan alasan membantu keluarga, itu suaminya yg keterlaluan atau istrinya yg sombong? Itu istrinya menyepelekan pendapatan suami atau justru suaminya yg memanfaatkan pendapatan istri?

# klo seorang wanita bekerja ya kerja aja demi kesenangan diri sendiri, untuk mengekspresikan diri, hasilnya untuk kebutuhan sendiri (sapa tau pengen ini itu jadi gk ngerepotin suami), gak usah terlalu fokus kerja klo wanita mah.. fokusnya ama keluarga aja. Suami dan anaknya,, (ada yg gagal paham?)

# suami yg harus kerja keras, dan ikhtiar lebih keras, karena itu tanggungjawabnya…

# suami yg kerja keras nggak akan sempat bermain dengan teman”nya, jangankan pergi nongkrong ama teman kepikiranpun nggak. Karena yg ada di pikirannya cuma cari uang setelah itu pulang. Refreshingnya bukan sama teman, tapi sama anak istri. Ngobrolnya, bercandanya, jalan”nya bukan sama teman tapi anak istri. Olahraganya sama anak istri, bukan sama teman.

# klo masih menyempatkan main, nongkrong sama teman itu artinya suami belum optimal dalam ikhtiarnya. Eittt… jangan blg maw sillaturrahim sama tema. Koq gk boleh. Boleh… tp jangan lupa ajak anak istrinya, kan kalian suami bukan seorang bujangan.

#catatanuntuksendiri

Kirana, 15012016

image

Hal Sepele Yang Tak Bisa Disepelekan


Kawand.., hari ini QK tersadarkan oleh sesuatu. Sesuatu hal yang sebenarnya sangat sepele tapi ternyata berdampak sangat besar dan tidak bisa disepelekan.

Ini buat para orangtua, pernahkah kalian menyadari bahwa setiap perbuatan kalian adalah contoh bagi anak-anak kalian?
Setiap apapun yang kalian lakukan adalah penanaman sikap dalam diri anak-anak kalian, bahkan ketika yang kalian lakukan itu adalah sesuatu yang teramat sangat sepele.

Bagaimana mungkin para orangtua berharap anak-anak mereka bersikap baik bila mereka sendiri tidak pernah memberikan contoh yang baik? Bukankah sang anak akan bingung,ketika orangtua mereka menasehati mereka dengan larangan-larangan ataupun himbauan-himbauan sementara apa yang mereka lihat adalah yang sebaliknya.

Ketika kita mengingatkan anak kita untuk sholat, sedangkan kita sendiri asyik menonton televisi. Ketika kita menyuruh anak-anak kita berpakaian dengan rapi, sedangkan kita berpakaian sekenanya. Ketika kita mengingatkan anak kita untuk menaruh sepatu dan sendal pada tempatnya, sementara kita menaruh sepatu dan sendal kita seenaknya. Ketika kita mengajarkan mereka cuci kaki sebelum naik ketempat tidur, tapi kitapun tak pernah melakukannya. Bagaimana mungkin?

Sedangkan disatu sisi, kita tidak perlu mengingatkan mereka untuk berdoa sebelum makan karena kita sudah terbiasa melakukannya bersama-sama. Kita tidak perlu mengajarkannya lagi untuk gosok gigi sebelum tidur karena kita sudah memberikannya contoh dengan melakukannya setiap hari. Kita tidak perlu susah-susah membangunkannya setiap pagi untuk sholat subuh karena kitapun sudah sering bahkan hampir setiap hari sholat subuh berjamaah.

Apa yang kita lakukan itulah yang kita tanamkan dalam diri anak kita. Saat kita melakukan hal yang baik secara disiplin, maka itulah yang dia pelajari. Begitupun ketika anak-anak kita melakukan sesuatu yang kurang baik, jangan terburu-buru untuk menyalahkan anak kita karena siapa tahu itu adalah dampak dari apa yang dia lihat dari kita sebagai suri tauladannya selama ini.Who knows?