Posts Tagged ‘Renungan’

Diary Mekkah


Sepi…

Mengapa hati ini sepi,

Begitu ramai di sekitar tapi terasa tetap sepi

Seakan ada yang hilang, seakan ada yang tertinggal yang tak ku mengerti

Terasa kosong.. hampa

Meski bibir terus berdoa, meski raga terasa lelah beribadah

Namun hati ini tak merasakan damainya

Ya Rabb.. apa ini..

Ampuni diri yang penuh dosa ini

Kesalahan seperti apakah yang telah aku lakukan hingga diri ini tak dapat rasakan kedamaian

Tinggal menghitung waktu aku berada di tanahMu

Izinkan… ampunkan…

Mohon berikan hidayah dan ampunanMu..

20170224, kirana


Mekkah Al Mukarromah, 22:00 waktu setempat




Iklan

Aku Menyayanginya


Satu kalimat yang belum sempat terucap dan mungkin selamanya hanya akan ada di dalam hati dan pikiran ini “Aku sayang kamu”
Bila ada kata andai, maka yang akan ku ucap adalah “Andai aku kenal kamu jauh sebelumnya”
Kalau ada harapan yang mungkin dapat terkabulkan “Dapatkah semua berakhir seperti yang kita inginkan”

Allah Ya Robb, aku tahu dia makhlukMu yang sangat-sangat tidak sempurna.
Aku pun tahu dia tak halal bagiku saat ini.
Tapi aku menyayanginya dari setiap ketidaksempurnaan yang dimilikinya.
Aku menyayanginya dari keinginannya untuk berubah menjadi lebih baik dari dirinya yang sebelumnya.

Allah Ya Robb, Kuatkan hatinya untuk tetap istiqomah dengan setiap kebaikan yang ada padanya saat ini.
Genggam erat hatinya agar tak terlepas dariMu lagi
Rangkul dia agar berjalan lurus ke arahMu
Dan kuatkan hatiku bila dia Kau ciptakan bukan untukku.

-amin-

Tuhan Bercanda Dengan Kita


Apa kabar kawan semua 😀 akhir-akhir ini QK semakin nggak bisa online lama-lama 😦 QK sering pusing kalo ada di depan laptop terlalu lama. Niat posting sich ada, mau berkunjung di blog kawan semua juga ingin. tapi apa daya kawan, 15 menit di depan layar laptop saja sudah bikin QK pusing :mrgreen: jadi maafkan kalo QK sudah nggak serajin dulu lagi ngeblog atau BW nya.

Emmhh.. beberapa hari yang lalu QK sempat baca status fb dari eyang Agungsang empunya blog Liliwangi di status fb nya beliau tulis… ” Mungkin Tuhan sedang ingin bercanda denganku……syukurlah…!!”.Awalnya sich QK ngerasa biasa aja sama status itu, tapi lama-lama koq jadi terpikirkan sesuatu ya??

Apa ia Tuhan pernah bercanda? Untuk apa?

Baca Selanjutnya. . .

Sepenggal Percakapan


“Sudah cewek, berjilbab pula tapi koq ngomongnya seperti nggak punya aturan begitu”

“hmmm,,,,”

“Aku saja biarpun jelek-jelek begini, biarpun temanku banyak cowoknya, tapi kalau ada temanku yang omongannya buruk seperti itu nggak bakalan kujadikan teman!”

“Ya.. jangan dilihat begitu. Yang penting kan bagaimana sikap mereka ke kita. Biarpun mereka itu suka ngomongnya buruk, biarpun mereka sifatnya buruk, asal mereka nggak mempengaruhi kita, asalkan mereka tetap baik sama kita, kenapa juga kita harus mempermasalahkan setiap kejelekan mereka?”

“Ya rugi sama jilbabnya!!”

“Iya sich, tapi kan orang juga nggak bisa dilihat dengan cara seperti itu. Lagipula, apa dikira selama ini teman-temanku itu baik-baik semua? nggak. Yang cewek banyak yang nggak bener, nggak tahu aturan, yang cowok juga banyak yang nakal.” ? ( maafkan aku kawan, jadi menjelekkan kalian.. :mrgreen: )

“masa?? termasuk si …. yang rajin sholat itu?”

“Ya mungkin juga… tapi juga bisa juga nggak, kan gak ada yang tahu.” (ugh,, sebenernya aku tahu, tapi ya sudahlah… masa ya harus ku iya kan?? )

“sholatnya rajin begitu masih suka minum juga? ya kamu sebagai teman kan seharusnya mengingatkan. masa sudah bisa sholat koq masih nakal juga.”

“Sebenernya nggak di ingatkan juga mereka itu sudah tahu sendiri, aku juga heran kenapa mereka masih juga ngelakuin kesalahan itu.” (Dan sebenarnya QK juga sudah ingatkan… tapi semua keputusan kan kembali kepadanya.. hmm.. )

“ah pokoknya orang itu nggak bisa di lihat dari sudah rajin sholat atau belum, nggak bisa juga di lihat apa dia itu orang yang suka minum atau nggak, nggak bisa juga dilihat dari bagaimana cara dia menarik simpati seseorang”

(aahhh,,, ternyata penyakitku itu belum sembuh juga??? kapan aku bisa mulai percaya sama orang lain? tanpa perlu ada curiga buat mereka semua.)

**************************************************************************************************

Sepenggal percakapan yang membuatku kembali terpikirkan sebuah pertanyaan yang sudah lama nggak pernah ku ingat lagi : “Apa orang yang dulunya pernah melakukan kesalahan, di kemudian hari dia akan selalu dianggap bersalah?”

Andai ada seseorang yang dulunya pecandu narkoba, lalu dengan bersusah payah dia menyudahi candunya…. apa selamanya dia selalu di cap sebagai pecandu??

Andai ada seorang pemabuk yang mencoba untuk bertobat, apa orang-orang di sekitarnya mampu menerima dirinya dan memperlakukannya adil seperti yang lainnya?

Andai ada seseorang yang sukanya berzina, lalu dia berhenti dari zinanya, menyesali perbuatannya… apa lingkungannya bisa menerimanya?

Padahal mereka butuh kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya, mereka butuh sikap yang bisa menguatkan mereka, apa lingkungannya bisa?

(aih,,, tulisan yang ngawur… tapi memang itu yang selama ini sering jadi pertanyaan… ternyata kepercayaan itu sangat penting ya kawan… Dan ketika kepercayaan itu hilang, apa ia dia masih bisa kembali lagi? )

nb : gambar di ambil dari sini

Salah Dalam Arti Hilang


Suatu ketika temanku pernah bertanya “kalau kita melakukan kesalahan, berarti itu mengurangi nilai kan?”
QK jawab “Iya, betul. Kalo salah berarti akan mengurangi nilai. Mana ada salah tapi nilainya tetap 100?? tapi semua itu masih bisa diperbaiki kok”

Supaya kawan blogger semua tahu ya, teman QK ini mengaku masa lalu nya itu kurang menyenangkan. Sekarang dia ingin berubah, tapi bayangan masa lalu itu terus saja ada dalam pikirannya. Seakan-akan semua yang dilakukannya saat ini sudah nggak ada gunanya lagi, karena dia merasa seseorang kalau sudah berbuat salah selamanya akan tetap salah.

QK mengerti, karena sebagai manusia QK juga pernah melakukan kesalahan. Walaupun mungkin nggak sebesar dan seberat yang dilakukan oleh orang lain. Tapi, menurut QK… QK tetap salah dan merasa bersalah. Dan andaikan semuanya dapat diputar ulang, mungkin QK juga ingin menghapus semua kesalahan yang telah QK lakukan.

Walaupun bubur nggak bisa berubah jadi nasi, tapi bukan berarti semangkuk bubur itu nggak berguna lagi kan?
Bubur ditambah daging ayam itu masih tetap enak kan kawan? Loh koq malah jadi ngomongin bubur toh :mrgreen: jadi meskipun dia terlanjur melakukan suatu kesalahan, asalkan mau berubah… semua itu masih mungkin diperbaiki kan??

Baca Selanjutnya . . .

Mengapa Allah Tak Memberikan Cobaan


Akhir-akhir ini QK sering dengerin temen-temen QK yang curhat tentang pacar-pacarnya, tentang ribut dengan keluarganya. Yang menurut QK sebenernya itu semua masih bisa di bicarakan, tapi kenapa mereka terlihat begitu bingung, begitu putus asa, begitu emosi. Padahal kalo dibicarakan baik-baik, dipikir dengan kepala dingin sepertinya semua masih bisa di atasi.

Sementara itu ada beberapa persoalan juga yang sedang QK alami, yang menurut QK sulit. Sampai QK mikir, kenapa QK diberikan cobaan yang seperti ini? Kenapa bukan seperti teman-teman QK yang lain? Kalo QK mendapatkan cobaan yang seperti itu pasti QK bisa ngelewatinnya.

Akhirnya, kembalilah QK pada pikiran-pikiran lama QK. Menurut QK ada 2 alasan mengapa Allah tak memberikan cobaan pada hamba-Nya. Yang pertama :

Baca Selanjutnya…

Antara Wiyung-Rungkut


Suatu waktu ketika QK pulang dari kampus, di sela-sela kemacetan jalan yang QK lewati terlintas sesuatu di pikiran QK. Ternyata hidup ini sama saja seperti saat kita melakukan di jalan raya ya?? Hidup yang QK jalani sekarang nggak jauh beda seperti saat QK berangkat dari rumah ke kampus ataupun dari kampus ke rumah. Ternyata hidup ini cuma sepanjang Rungkut – Wiyung 😀

Baca Selanjutnya…