Cinta Itu Masih Ada


Cinta itu masih ada
Hanya saja tak terbaca
Cinta itu masih ada 
Hanya saja tak terraba

Ketika jejak kakiku melangkah mendekatimu
Terlihat di ujung matamu semburat rindu
Tampak haru… tampak biru…

Butuh bantuan jarak dan lamanya waktu hingga akhirnya aku harus mengakui

Aku masih mencintaimu 🙂

Kemarin, kini dan juga nanti

Masih mencintaimu

Selalu mencintaimu 🙂

Ada kalanya jarak yang jauh menjadikan kita lebih dekat…

Diary Mekkah 4


Akhirnya…Sudah berakhir harinya…

Rasanya tak ingin pergi

Inginnya tetap disini

Terasa damai.. tenang…

Namun disana ada yang menanti

Ingin disana tapi tak ingin pergi darisini

Ingin bertemu yang disana

Tapi tak ingin berpisah dengan semua yang ada disini
Kupsrahkan hatiku padaMu ya Rabb…

Sekarang aku pulang, kembali bersama keluargaku tersayang

Namun aku akan tetap berdoa

Semoga aku kembali Kau ijinkan untuk datang ke Baitullah di waktu yang akan datang

20170226, kirana

Mekkah Al Mukarromah, 00:30 waktu setempat

Diary Mekkah 2


Shaf…
Sungguh hari ini aku semakin meyakini…

Hanya ada segala kebaikan dalam diri baginda nabi

Ketika shaf shalat kita renggang maka kita pasti akan tercerai beraikan,itu benar.. 

Dan benar… dan sangat benar
Rasulullah memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat, dan ternyata itu memang penting.

Hari ini.. saat duduk diam menunggu adzan ashar di Baitullah aku melihat sekitar..

Begitu banyak jamaah dari berbagai belahan dunia

Namun banyak di antaranya yang enggan merapatkan diri antara satu dan yang lainnya
Lalu apa yang terjadi?
Jamaah jamaah baru datang dan menyerobot di setiap sela-sela nya
Dalam hati kecilku menggumam, inikah maksudnya?

Alhamdulillah karena secara kasat mata yang menyerobot di tengah barisan shaf adalah sesama jamaah

Lalu bagaimana dengan yang tak kasat mata?

Bila shaf ini tetap renggang, siapakah yang merasuk di sela-selanya?

Syaitan kah atau malaikatkah?

Ketika shaf shalat lurus dan rapi

Seketika tergambar benteng yang kokoh yang seolah tak dapat ditembus oleh apapun

Namun saat shaf shalat renggang dan berantakan

Seketika gambaran kekalahan terpancar seolah barisan tentara yang kalah dalam peperangan
Wallahualam..
20170224, kirana

Mekkah Al Mukarromah, 19:04 waktu setempat

Diary Mekkah 3


Berapa hari lagi,,Tinggal menunggu waktu bagiku untuk meninggalkan tanahMu

Dan mulai merindu

Betapa disini segalanya berbeda

Betapa disini semuanya tak sama
Harus berapa lama aku menunggu

Agar bisa datang kembali ke tanahMu
Belumlah raga ini beranjak pergi dari sini

Tapi kerinduan di hati mulai menyelimuti
Tentang kota nabi yang tertata rapi

Tentang burung-burung merpati yang datang lalu terbang pergi sesuka hati

Tentang kawan seperjalanan yang menyenangkan

Tentang sejarah masjid dan bukit yang selalu terkenang
Tentang indah dan terpesona memandang ka’bah pertama kali

Tentang haru yang menyesakkan dada saat mengelilinginya 7x

Tentang deru nafas yang terengah di 7 putaran safa marwah
Tentang perjalanan wisata agama dari satu tempat ke tempat lainnya

Tentang cerita dan sejarah baginda Rasul dan sahabat-sahabatnya

Terlebih lagi..

Tentang bagaimana mengejar sholat tepat pada waktunya

Pada kaki-kaki yang lelah namun tetap melangkah

Tentang bagaimana kita menunggu dan menghitung saat adzan tiba

Pada mata-mata yang setengah terpejam namun sayang untuk melewatkan
Sungguh… aku tak akan mampu melupakan
Namun sanggupkah?

Mampukah diri ini bertahan di tengah godaan keluarga dan pekerjaan ketika tiba saatnya pulang nanti?

Sungguh.. diri ini tak akan sanggup mengingkari
Betapa banyak nikmat yang telah Engkau beri, namun mampukah diri ini tetap bersyukur seperti saat ini?

Ketika air mata ini menetes membayangkan perpisahan itu tiba,

Saat dada terasa sesak hingga tenggorokan tercekat tak mampu bersuara,

Sungguh berat perpisahan ini ya Allah…

Namun bila waktu itu tiba ijinkan aku berdoa
“Jadikanlah aku dan keturunanku orang-orangMu yang terpilih untuk datang kembali ke tanahMu yang suci”



Labbaikallahu ma labbaik…

Labbaikkalaa syariikalak labbaik..
20170224, Kirana

Mekkah Al Mukarromah, 21:00 waktu setempat

Diary Mekkah


Sepi…

Mengapa hati ini sepi,

Begitu ramai di sekitar tapi terasa tetap sepi

Seakan ada yang hilang, seakan ada yang tertinggal yang tak ku mengerti

Terasa kosong.. hampa

Meski bibir terus berdoa, meski raga terasa lelah beribadah

Namun hati ini tak merasakan damainya

Ya Rabb.. apa ini..

Ampuni diri yang penuh dosa ini

Kesalahan seperti apakah yang telah aku lakukan hingga diri ini tak dapat rasakan kedamaian

Tinggal menghitung waktu aku berada di tanahMu

Izinkan… ampunkan…

Mohon berikan hidayah dan ampunanMu..

20170224, kirana


Mekkah Al Mukarromah, 22:00 waktu setempat




Memohon AmpunanMu


Hari ini aku ada disini, dirumahMu ya Rabb…

Tapi mengapa hati ini tak tenang?

Mungkin terlalu banyak dosaku, hingga aku tak mampu lagi merasakan hidayahMu

Mungkin terlalu banyak kesalahan yang telah ku perbuat, hingga aku tak bisa merasakan nikmatMu

Allah… 

Selama disini, terutama hari ini.. di tanahMu yang suci

Aku telah berbuat dosa..

Dosa besar yang bahkan mungkin tak terampuni 😦

Hanya dalam hitungan detik,

Aku terlena, semuanya musnah

Tiba-tiba hatiku terasa hampa,

Aku telah melukainya…

Aku telah menyakiti hati mereka…

Ibuku..

Orang yang dengan tulus menyayangiku, mulut yang kotor ini telah melukai hatinya..

Dan aku masih saja tinggi hati untuk meminta ampunannya,

Jikalau tinggi hati ini tiada, aku pun tak tahu harus mulai mengakui kesalahanku darimana

Suamiku…

Orang yang telah bersamaku selama ini, aku telah melukainya

Hati ini sering merasa lebih tinggi

Mulut ini entah telah berapa kali mencaci…

Allah..

Masih 2 kesalahan yang ku ingat,

Tapi rasanya itu sudah cukup untukMu menurunkan azab kepada diri yang nista ini

Sedangkan masih banyak, bahkan tak terhitung kesalahan dan dosa yang melekat 😦

Ampunkan ya Rabb…

Agar aku bisa kembali membuka mata, atas setiap nikmat yang Kau hamparkan dihadapanku

Agar aku bisa kembali mendengar, atas semua nikmat yang Kau dendangkan untukku

Agar aku bisa kembali merasa, atas semua anugerah dan hidayah yang telah Kau beri padaku

Agar mulut ini bisa kembali bersyukur, atas segala yang telah Kau lekatkan pada diriku

Amin

22022017, Kirana

Mekkah Al Mukarromah, 00:31 wkt setempat

Istri


Apa yang kau lihat darinya hingga dulu kau terima pinangannya?
Bukankah salah satunya karena dia seorang lelaki yang hebat dan penuh tanggungjawab dalam penglihatanmu?

Apa yang kau harap ketika kau memandangnya?
Bukankah hatimu mengatakan inilah pendamping yang kau cari selama ini?

Bila dulu engkau mengharap cinta yg tulus, lalu mengapa kini engkau meributkan materi?
Kalau dulu engkau bahagia bila dia meluangkan waktunya untukmu, lalu mengapa kini kau memaksanya pagi, siang, sore malam untuk pergi mengais rezeki?

Tak cukupkah kehadirannya di sisimu, asal bisa makan tiap hari?
Mengapa masih harus kau berikan tuntutan ini dan itu…

Tak cukupkah kasih sayang yang dihujaninya untukmu, hingga kau masih membanding-bandingkannya dengan yang lain bahkan mantan kekasihmu dulu?

Bila kau melihatnya penuh kekurangan, bukankah itu pun kau sudah tahu dari dulu?
Bila kau merasa semakin hari dia semakin berubah, bukankah kamu salah satu sebabnya?

Kalau menurutmu kian lama dia hanya menampakkan keburukan, benarkah… cobalah kau hitung ulang..
Mungkin pula ada kebaikannya yg kau lupakan

Ketika engkau memilihnya menjadi imammu, saat itu pula telah kau pasrahkan hidupmu padanya.
Bukan hanya dia yang terlihat baik dimatamu, tapi juga dia yang belum tampak keburukannya di depanmu.
Mungkin dia tak sebaik yang kau harap dulu, tapi yakinlah pasti ada kebaikan dalam diriny untukmu.

Karena Allah tak pernah salah dalam memberikan sesuatu pada hambanya, meski itu berupa keburukan ataupun kebaikan.

Kirana, 20 01 2017



*gambar diambil dari google