Hal Sepele Yang Tak Bisa Disepelekan


Kawand.., hari ini QK tersadarkan oleh sesuatu. Sesuatu hal yang sebenarnya sangat sepele tapi ternyata berdampak sangat besar dan tidak bisa disepelekan.

Ini buat para orangtua, pernahkah kalian menyadari bahwa setiap perbuatan kalian adalah contoh bagi anak-anak kalian?
Setiap apapun yang kalian lakukan adalah penanaman sikap dalam diri anak-anak kalian, bahkan ketika yang kalian lakukan itu adalah sesuatu yang teramat sangat sepele.

Bagaimana mungkin para orangtua berharap anak-anak mereka bersikap baik bila mereka sendiri tidak pernah memberikan contoh yang baik? Bukankah sang anak akan bingung,ketika orangtua mereka menasehati mereka dengan larangan-larangan ataupun himbauan-himbauan sementara apa yang mereka lihat adalah yang sebaliknya.

Ketika kita mengingatkan anak kita untuk sholat, sedangkan kita sendiri asyik menonton televisi. Ketika kita menyuruh anak-anak kita berpakaian dengan rapi, sedangkan kita berpakaian sekenanya. Ketika kita mengingatkan anak kita untuk menaruh sepatu dan sendal pada tempatnya, sementara kita menaruh sepatu dan sendal kita seenaknya. Ketika kita mengajarkan mereka cuci kaki sebelum naik ketempat tidur, tapi kitapun tak pernah melakukannya. Bagaimana mungkin?

Sedangkan disatu sisi, kita tidak perlu mengingatkan mereka untuk berdoa sebelum makan karena kita sudah terbiasa melakukannya bersama-sama. Kita tidak perlu mengajarkannya lagi untuk gosok gigi sebelum tidur karena kita sudah memberikannya contoh dengan melakukannya setiap hari. Kita tidak perlu susah-susah membangunkannya setiap pagi untuk sholat subuh karena kitapun sudah sering bahkan hampir setiap hari sholat subuh berjamaah.

Apa yang kita lakukan itulah yang kita tanamkan dalam diri anak kita. Saat kita melakukan hal yang baik secara disiplin, maka itulah yang dia pelajari. Begitupun ketika anak-anak kita melakukan sesuatu yang kurang baik, jangan terburu-buru untuk menyalahkan anak kita karena siapa tahu itu adalah dampak dari apa yang dia lihat dari kita sebagai suri tauladannya selama ini.Who knows?

Wanita Harus Berpendidikan Tinggi


Kata siapa wanita nggak perlu sekolah?
Kata siapa wanita nggak perlu berpendidikan tinggi?

Wanita wajib sekolah, wanita wajib berpendidikan tinggi karena setiap wanita adalah calon ibu yang akan melahirkan dan mendidik anak-anaknya nanti.

Ibulah yang akan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan tumbuh menjadi seorang suami, seorang kepala keluarga.Bagaimana bisa seorang ibu mendidik anak laki-lakinya menjadi seorang yang bertanggungjawab terhadap keluarganya, menjadi laki-laki yang hebat yang mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, laki-laki yang santun dan menghargai istrinya bila seorang ibu tidak berpendidikan tinggi?

Ibulah yang akan melahirkan seorang anak perempuan yang kelak akan tumbuh menjadi seorang istri, dan ibu bagi anak-anaknya nanti. Bagaimana bisa seorang ibu menjadikan anak perempuannya perempuan yang sholeha, yang taat kepada ajaran agama, patuh kepada suaminya, dan menjadi calon pendidik yang hebat bagi anak-anaknya kelak bila seorang ibu tidak berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas?

Seorang ibulah yang akan pertama kali memberikan pembelajaran bagi anak-anaknya, seorang ibu yang pertama kali memperkenalkan nilai-nilai kebaikan bagi anak-anaknya, ibu adalah sumber pembelajaran pertama dan yang utama bagi anak-anaknya, dan…..
Seorang ibu adalah wanita.

Ketika Sendiri


Mereka bilang sendiri itu tak menyenangkan
Banyak juga yang menggumam…
Memangnya apa yang bisa dilakukan dalam kesendirian?”
Tapi bagiku tidak.

Kesendirian mengajarkanku banyak hal
Kesendirian juga yang membuatku menjadi lebih kuat dan tegar

Sendiri mengajarkanku mandiri,
Bagaimana kita harus menyelesaikan tugas-tugas kita
Semaksimal mungkin tanpa bantuan orang lain

Sendiri mengajarkanku arti menghargai orang lain
Ketika kita bersama biasanya kita kurang peduli dengan orang-orang di sekeliling kita
Tapi ketika sendiri…
Kita akan mengerti betapa sebenarnya kita sangat membutuhkan orang  lain

Dalam kesendirian akan selalu ada perenungan
Karena dalam kesendirian kita akan mendapatkan ketenangan

Sendiri itu indah kawan…
Meskipun kebersamaan itu menyenangkan
Tapi sendiri tak berarti penuh dengan kesedihan

~kirana, 090113~

Nge-blog Lagi


Kawanku, temanku, sodaraku…

image

Senengnya udah bisa ngeblog lagi. Moga-moga aja bisa lancar selalu :D
Walaupun jujur QK sih belum terbiasa banged sama alat baru ini :D

HIDUP!!! ^_^

Abu – abu


Putih bukan, hitam juga bukan

Baik nggak, buruk? Nggak juga

Jadi aq ini berada dimana?

Aq ini berwarna apa????

Samar… tidak jelas keberadaannya

Tapi aq ya begini,

Abu-abu

Terkadang hampir putih

Lalu kembali terpercik noda hitam

Abu-abu jadinya…

~ Kirana, 01122011~

angel-in-the-sky

Katanya Sayang?


Hai kawands jumpa lagi sama QK :) dan lagi lagi kali ini QK mau sedikit curhat dan sedikit berbagi cerita dengan kalian Jadi, kali ini apalagi yang jadi bahan omelan QK di sini? hmmm :roll:

Begini kawands, beberapa hari yang lalu ketika QK lagi curhat-curhatan sama temennya QK dia cerita. Dia bilang “QK, kata keluargaku mereka sayang denganku. Dan mereka juga sering bilang kalau aku lebih penurut daripada kakakku. Kakakku itu menyebalkan, dan gak jarang bikin mereka jengkel. Tapi kenapa yaa.. koq semua yang diminta sama kakakku selalu dikasih. Semuanya kakakku yang nomor satu, sedangkan aku terkadang merasa di nomor sekian-kan. Kalau boleh aku bandingkan, aku selalu patuh sama mereka sedangkan kakakku lebih sering menentang. Saat aku gak boleh melakukan ini dan itu yang aku ingin, kakakku boleh. Ketika aku ingin mendapatkan sesuatu aku harus menunggu lama, tapi kakakku selalu dapat apa yang dia mau. Aku sering disuruh ini dan itu untuk hal-hal yang sepele, aku pikir wajar kalau aku yang disuruh karena aku lebih muda. Tapi ketika aku sedang letih dan mereka tetap suruh-suruh aku, sedangkan saat itu kakakku keadaannya lebih santai daripada aku. aku jadi heran QK.

Mereka sering juga ngomel-ngomel ke aku, tentang kakakku yang nggak nurut dan sebagainya. Kata mereka biasanya, “sudah, kelamaan kalau kakakmu. Kamu saja yang berangkat. Kamu saja yang kerjakan. Kita itu senang kalau nyuruh kamu, nggak seperti kakakmu.” Selalu begitu jawabnya. Bukankah mereka bilang mereka sayang aku QK? tapi kenapa rasanya aku malah jadi lebih sengsara? sedangkan kakakku sepertinya hidupnya lebih menyenangkan dan mudah?”

Tadinya QK jawab, ya kamu sabar aja. Mungkin memang mereka lebih senang kalau kamu yang mengerjakan. Mereka lebih percaya kalau kamu yang lakukan apa yang mereka mau. Yaa seperti yang kamu bilang, mungkin kakakmu terlalu lamban :green: :lol: atau mungkin juga memang mereka tuh sayang banget sama kamu, jadi yang ada dalam ingatan mereka cuma kamu kamu dan kamu :lol: makanya mereka seneng banget tuch nyuruh-nyuruh kamu, habisnya yang mereka ingat cuma kamu qkqkqkq :lol: jawabku sambil bercandaberusaha menghibur dia.

Tapi setelah itu QK juga berpikir sich kenapa koq bisa begitu ya? :roll: Sampai akhirnya QK menyadari sesuatu :idea:

1. Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambaNya

Jadi  QK yakin seberat apapun yang dialami dan dirasakan sama teman QK itu, pasti itu adalah yang terbaik untuknya.

2. Allah memberikan ujian itu kan bermacam-macam bentuknya, misalnya ada yang di uji dengan kekayaannya dan ada juga yang di uji dengan kemiskinannya. Cantik, Jelek, pintar, Cacat, kaya, miskin  semua itu juga bentuk ujiannya bukan? tapi kan bukan berarti Allah hanya peduli pada yang cantik sedangkan yang jelek ditelantarkan. atau Allah hanya peduli pada yang kaya tapi yang miskin di abaikan. Pada seorang ustadz, ada campur tangan Allah dalam hidupnya. Sama juga pada seorang perampok, ada campur tangan Allah dalam tiap hari yang dilaluinya.

Sama seperti temen QK yang walaupun katanya kakaknya nggak nurut dan temen QK lebih baik dari kakaknya, tapi keluarganya sebenarnya pasti tetap menaruh peduli pada mereka berdua

3. Cara menguji Allah pada tiap hambaNya itu berbeda. Ada orang yang di uji dengan selalu di berikan kesengsaraan dalam hidupnya. Sudah kerja mati-matian tapi jangankan untuk hidup mewah, untuk makan sehari- hari aja masih susah. Ada juga orang yang di uji dengan segala kenikmatan yang dia punya. Hidupnya santai, setiap hari kerjanya cuma foya-foya tapi sepertinya keberuntungan selalu berpihak padanya. Kelihatannya memang mungkin hidup yang penuh nikmat itu lebih indah, dan lebih berkah. Tapi siapa yang tahu bahwa sebenarnya di mata Allah  yang di uji dengan kesengsaraanlah yang lebih mulia di sisiNya. Ehm kalau istilah jawa mungkin “di gunggung, di lulu”

Sama seperti teman QK yang sepertinya dia lebih sengsara, padahal mungkin sebenarnya keluarganya memang lebih memperhatikan dia. Lebih sayang sama dia, jadi keluarganya nggak ingin dia salah langkah. Itu sebabnya dia dilarang ini dan itu, karena keluarganya nggak mau dia sampai melakukan suatu hal yang salah. Sedangkan dengan kakaknya, keluarganya memang seolah membiarkan setiap apa yang dilakukan, Tapi sebenernya mereka nggak terlalu ambil peduli dengan kehidupannya. Asalkan sang kakak nggak salah-salah amat ya udah biarin aja.

Begitu kali yaaaaaaaa………. :razz:  :cool:

Belum Waktunya


Pada suatu percakapan di suatu sore :

“Sabar, kamu itu belum waktunya.”

Waktunya? Emang apa yang menjadi indikator sudah waktunya atau belum?

Usia? Materi? Kedewasaan?
Darimana bisa mengukur kedewasaan?

HAaiihh,,, sudahlah… biarkan saja berjalan seperti biasa.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 66 pengikut lainnya.